Skip to content

Retrospektif: Wong Kar Wai

17 07 2012

Melankoli yang Memperkenalkan Dirinya Sendiri

Perpustakaan Literati, Juli 2012

Program oleh: Dea Anugrah  @dea_anugrah

 

“Tugas musik bukanlah menghantarkan ‘sesuatu’ kepada pendengarnya, melainkan menjelma jadi ‘sesuatu’ itu,” demikian Arthur Schopenhauer. Dengan kata lain, bagi pemikir penting abad 19 tersebut, musik tidak seharusnya menyampaikan kesedihan, kecemasan, atau rupa-rupa perasaan lain. Musik, seharusnya, malih menjadi perasaan-perasaan itu sendiri. Barangkali, musik memang sanggup mengemban tugas itu. Tetapi apakah film, yang merupakan titik temu dari bermacam-macam bidang kesenian, sanggup melakukannya? Jika kita menonton film-film besutan Wong Kar Wai, sebutlah In the Mood for Love, Ashes of Time atau Chungking Express, sedikit-banyak, kita akan mendapati adanya usaha-usaha ke arah tersebut. Harus kita namai apa harmoni yang disusun dari gambar-gambar yang bergerak perlahan, repetisi musik-musik nostalgis, serta perkataan-perkataan yang mengharu-biru—namun subtil, jika bukan sebuah usaha untuk menjadi sebuah sentimentalia yang utuh, dan bukan sekadar menyampaikannya?

ImageIN THE MOOD FOR LOVE

2000 | 98 menit | Drama | Berwarna | Bahasa: Kanton | Teks: Inggris | Sabtu, 21 Juli 2012, 19:00 WIB

Berkisah tentang dua orang yang hidup bertetangga. Keduanya sudah berkeluarga, namun kerap dilanda kesepian yang tak tertanggungkan karena kurangnya perhatian dari masing-masing pasangan. Lambat laun, karena intensitas pertemuan, semacam perasaan-senasib, serta hobi yang serupa, mereka lalu menjalin persahabatan. Pelan-pelan pula, setelah mengetahui ketidaksetiaan pasangannya masing-masing, mereka berusaha menumbuhkan perasaan dari balik dinding tipis yang memisahkan flat keduanya. Memang bukan cerita yang luar biasa, namun, lewat tangan Wong Kar Wai, film ini menjadi salah satu yang paling sukar dilupakan.

ImageMY BLUEBERRY NIGHTS

2007 | 95 menit | Drama | Berwarna | Bahasa: Inggris | Teks: Inggris | Minggu, 22 Juli 2012, 19:00

My Blueberry Nights adalah rangkaian peristiwa yang, barangkali, biasa ditemukan di mana saja pada hari-hari ini. Syaratnya: kafe kecil, pai-pai blueberry yang tidak laku, pemilik kafe yang melankolis, dan seorang perempuan yang patah hati. Susunannya: di kafe itu, pai-pai blueberry akan menambal jarak, lalu membuat si pemilik kafe dan si perempuan saling jatuh cinta. Seperti itu sajakah? Tidak, perempuan itu sedang patah hati, dan itu adalah detil yang penting. Setelah beberapa kali datang ke kafe dan menjadi satu-satunya pelanggan yang memesan pai blueberry, si perempuan akan menitipkan kunci apartemen mantan-kekasihnya, lalu pergi berkelana ke seantero Amerika. Elizabeth, nama perempuan tersebut, mempelajari beberapa hal sepanjang perjalanannya: tentang cinta, relasi sesama manusia, dan yang terpenting, tentang perasaannya sendiri.

ImageCHUNGKING EXPRESS

1994 | 98 menit | Drama | Berwarna | Bahasa: Kanton | Teks: Inggris | Senin, 23 Juli 2012, 19:00

Cerita film ini terbagi dalam dua bagian, dengan dua tokoh utama yang berbeda, namun menghadapi masalah yang serupa—keduanya patah arang karena asmara. Salah satu bagian yang paling mengesankan adalah ketika mereka merawat luka dengan cara masing-masing: tokoh pertama melahap tiga puluh kaleng nanas dalam semalam sambil merenung tentang tanggal kadaluarsa, sementara tokoh kedua melakukan percakapan sentimentil dengan benda-apa-saja di apartemennya. Jika ada orang di sekitar anda yang menyebut Chungking Express sebagai film Wong Kar Wai kesukaannya, tunggu saja kalimat berikutnya, saya berani bertaruh, orang tersebut pasti akan mulai bercerita tentang dua tokoh ajaib itu.

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 17 07 2012 11:21

    Ini perpus apa bioskop yah 😀
    Jam tayangnya kapan? Apa datang terus bisa mutar sendiri kapan saja, atau malah filmnya disediakan untuk dipinjam?

  2. 17 07 2012 14:07

    Kami tetaplah perpustakaan kawan, tapi salah satu program kami adalah pemutaran film reguler setiap bulannya. Oh ya maaf atas kesilapan kami. Sudah kami sunting ulang artikel ini. Silahkan dibaca lagi. Terima kasih atas perhatiannya. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: