Skip to content

JUNI INI DI LITERATI (Program Perpustakaan Literati Juni 2011)

31 05 2011

A. Ceramah Kebangsaan “Soekarnoisme Dalam Abad Ke-21”

Bertepatan dengan momen Kebangkitan Nasional, Perpustakaan Literati bekerjasama dengan Parikesit Institute, LPPM Sintesa, Pusat Studi Pancasila UGM, dan Penerbit Djaman Baroe, menggelar kuliah umum bertemakan “Soekarnoisme Dalam Abad Ke-21”, dengan pembicara Dr. Max Lane (University of Melbourne). Kata pengantar akan disampaikan oleh Prof. dr. Sutaryo (Ketua Senat UGM).

Waktu dan tempat: Jumat, 10 Juni 2011, pukul 13.00 – selesai, di Ruang Seminar Pasca Sarjana, Kampus Bulaksumur Fisipol UGM.

HTM: Mahasiswa – Rp 20.000, Umum – Rp 35.000. Untuk pembelian tiket, silahkan datangi Sekretariat LPPM Sintesa (Gedung Yong Ma lt.2, Kampus Bulaksumur Fisipol UGM) atau Perpustakaan Literati (Perum. Bima Kencana no.2, Condongcatur, Yogyakarta).

Contact person: Ulum (085 743 400 995) dan Ike (085 649 216 841).

.
B. 
Bring The War Home!: Kiri di Masa Teror

Produksi wacana terorisme setelah 9/11 tidak hanya berdampak pada Islam yang kemudian sering dikaitkan dengan radikalisme dan teror, tetapi juga sampai gerakan kiri di era 1960-70an. Sekitar 10 tahun terakhir muncul sejumlah film tentang sepak terjang kelompok-kelompok kiri bersenjata di Amerika dan Eropa Barat, seperti: Red Army Faction, Red Brigade, Weather Underground, dan lain sebagainya. Di satu sisi, ada implikasi bahwa membaca fenomena terorisme kontemporer melalui terorisme gerakan kiri, berarti juga mengembalikan diskursus terorisme ke dalam kaitannya dengan soal-soal ketimpangan ekonomi dan kolonialisme yang getol diartikulasikan oleh kelompok kiri.

Di sisi lain, muncul pula kesan bahwa setiap gerakan politik yang berada di luar prosedur rutin negara maupun di luar spektrum ideologi liberal, dapat semena-mena dikategorikan sebagai radikal atau teroris. Pemutaran film dan diskusi “Bring the War Home!: Kiri di Masa Teror” bertujuan untuk membedah narasi teror seperti yang ditampilkan dalam 3 film:  Baader Meinhof Complex dan The Weather Undeground, mengetengahkan dua kelompok sayap kiri di Jerman dan Amerika yang mengadopsi taktik gerilya, sementara L’Avocat de la terreur adalah dokumenter tentang pengacara Prancis Jacques Verges yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki klien-klien eks-Nazi, diktator negara dunia ketiga, teroris, dan pembantai massal seperti Milosevic.

1. Baader Meinhof Complex

Uli Edel | 2008 | Fiksi | 150 menit | Bahasa Jerman, teks Inggris | Jumat, 10 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Sebuah potret tentang Red Army Faction, sebuah grup teroris Jerman, yang mengorganisir sejumlah pengeboman, penculikan, dan pembunuhan di dekade 60an

.

2. L’avocat de la terreur

Barbet Schroeder | 2007 | Dokumenter | 135 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Jumat, 17 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Dokumenter tentang pengacara Prancis Jacques Verges, yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki klien-klien eks-Nazi, diktator negara dunia ketiga, teroris, dan pembantai massal.

.

3. The Weather Underground + Diskusi

Sam Green & Bill Siegel | 2002 | Dokumenter | 92 menit | Bahasa Inggris, tanpa teks | Jumat, 24 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati | Pembicara: Luqman Al-Hakim (Master Hubungan Internasioal UGM).

Sebuah dokumenter tentang The Weather Underground, kelompok aktivis radikal dekade 70an di Amerika Serikat. Mereka mengkonfrontasi pemerintahan via  demonstrasi di jalan dan pengeboman.

.

C. Diskusi Sastra Bersama Daftar Pustaka

Perpustakaan Literati bersama Daftar Pustaka menggelar diskusi rutin dua kali sebulan, tentang pengarang dan penyair dunia, serta karya-karya mereka. Juni 2011 adalah bulan edisi pengarang dan penyair Eropa.

1. Pengarang: Milan Kundera

Bagaimanakah jika sejumlah kisah cinta yang kompleks dibalut dengan pandangan dunia yang fatalis?  Hubungan Tomas dan Tereza yang dilandasi kesetiaan Tereza yang nyaris tanpa batas, serta sosok Tereza yang bak “bayi hanyut dan terdampar di sisi tempat tidur”, selalu menghantui Tomas. Pertemanan erotis antara Tomas dan Sabina; Sabina sebagai personifikasi dari obsesi Frans yang tak lazim, serta hasrat Sabina untuk menghianati segalanya. Dalam Unbearable Lightness of Being, sebagian besar cerita berkisar di antara hubungan-hubungan tersebut, dan sesekali disisipi kuliah filsafat, baik oleh narator, maupun oleh tokoh-tokohnya.

Rabu, 15 Juni 2011, pukul 16.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

2. Penyair: Charles Bauderlaire

“Stupidity and meanness, error, vice,/ Inhabit and obsess us every one./ As for remorse, we find it rather fun:/ We nourish it, as beggars feed their lice…You/ know this dear monster, reader. Yes you do,/ Admit it. We are brothers, you and I.” (To the Reader)

Bayangkan sebuah dunia yang tidak lebih dari area porak-poranda, dipenuhi monster dan binatang buas, serta dikelilingi gunung berapi dan jurang-jurang dalam. Itulah dunia dalam sajak-sajak Baudelaire, sekaligus dunia yang ia hayati sehari-hari. Singkatnya, bagi tokoh yang dinyatakan Arthur Rimbaud sebagai ‘Raja Para Penyair’ ini, harga kehidupan justru terletak pada penderitaan, bukan pada ilusi-ilusi yang kerap kita anggap sebagai kebahagiaan.

Kamis, 30 Juni 2011, pukul 16.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

.

D. Pemutaran Film bersama Cinema Poetica: “Memori dan Remedi”

“Aku telah menghabiskan hidupku memahami arti dari mengingat, yang ternyata bukan lawan dari melupakan. Kita tidak pernah mengingat. Kita hanya menulis ulang ingatan kita, sama layaknya kita menulis ulang sejarah,” begitu tulis Chris Marker dalam Sans Soleil (1983), film dokumenternya yang paling personal. Marker boleh jadi sedang merenungi—atau malah meratapi?—ketidakmampuannya mengingat asal muasal setiap gambar dan suara yang ia rekam.

Marker melihat memori sebagai suatu pertentangan, antara yang hilang dan yang bertahan. Ia berasumsi manusia mereduksi kehidupannya menjadi serangkaian fragmen ingatan. Sejumlah momen dan imaji bertahan, meski sudah lama dialami, namun kerangka besar yang menyatukan itu semua sudah lama hilang. Konsekuensinya: tidak semua ingatan bisa kita terjemahkan. Apa yang hilang dan yang bertahan dari kenangan kita pada akhirnya kita susun kembali, sesuai dengan keinginan hati. Pada titik itulah, apa yang kita biasa anggap sebagai mengingat dan melupakan terjadi. Ketika akhirnya renungannya tentang memori terwujud via Sans Soleil, Marker melihat medium film punya kesamaan dengan memori. Setiap gambar dan suara, yang terkandung dalam suatu film, dapat berdiri dengan dirinya sendiri.

Marker tidak sendiri dalam merenungkan memori via sinema. Ada juga Apichatpong Weerasethakul, yang mencoba mereka ulang masa kecilnya lewat Syndromes and a Century (2006). Begitu juga dengan Alain Resnais, yang bicara soal trauma perang dan kehilangan kekasih, lewat dua mahakaryanya: Nights and Fog (1955) dan Hiroshima Mon Amour (1959).

1. Sans Soleil

Chris Marker | 1983 | Dokumenter | 100 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Senin, 6 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Seorang perempuan membacakan surat dari temannya, yang baru saja jalan-jalan dari Jepang sampai Afrika. Surat tersebut dilengkapi dengan potongan-potongan gambar, yang menceritakan sejumlah renungan tentang memori dan waktu.

.2. Syndromes and a Century

Apichatpong Weerasethakul | 2006 | Fiksi |105 menit | Bahasa Thai, teks Inggris | Senin, 20 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Film ini merupakan narasi personal sang sutradara tentang orang tuanya yang kerja sebagai dokter, dan kenangan masa kecilnya yang banyak dihabiskan di lingkungan rumah sakit.

.

3.

 A. Night and Fog

Alain Resnais | 1955 | Dokumenter | 32 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Senin, 27 Juni 2011, di Perpustakaan Literati.

Sebuah dokumentasi singkat tentang sejarah kamp konsentrasi Nazi. Film ini mengaitkan arsitektur kamp-kamp konsentrasi yang tersisa sekarang dengan penderitaan dan kematian yang terjadi di dalamnya beberapa tahun sebelumnya.

.

B. Hiroshima Mon Amour

Alain Resnais | 1959 | Fiksi | 90 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Senin, 27 Juni 2011, di Perpustakaan Literati.

Di Hiroshima tahun 1959, seorang aktris muda Perancis menghabiskan semalam bersama seorang pria Jepang. Peraduan mereka malam itu mengingatkan si perempuan Perancis akan kekasihnya dulu: seorang tentara Jerman yang tewas tertembak di Perang Dunia II.

.

Dua film terakhir akan diputar pukul 19.00 – selesai.

Iklan
One Comment leave one →
  1. 31 05 2011 12:46

    Ajaklah aku ketempat ini…jeputlah dan gonceng aku…

    Ayooo…aku haus pengethuan…

    lam manis,
    andy sw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: