Skip to content

Retrospektif: Wong Kar Wai

17 07 2012

Melankoli yang Memperkenalkan Dirinya Sendiri

Perpustakaan Literati, Juli 2012

Program oleh: Dea Anugrah  @dea_anugrah

 

“Tugas musik bukanlah menghantarkan ‘sesuatu’ kepada pendengarnya, melainkan menjelma jadi ‘sesuatu’ itu,” demikian Arthur Schopenhauer. Dengan kata lain, bagi pemikir penting abad 19 tersebut, musik tidak seharusnya menyampaikan kesedihan, kecemasan, atau rupa-rupa perasaan lain. Musik, seharusnya, malih menjadi perasaan-perasaan itu sendiri. Barangkali, musik memang sanggup mengemban tugas itu. Tetapi apakah film, yang merupakan titik temu dari bermacam-macam bidang kesenian, sanggup melakukannya? Jika kita menonton film-film besutan Wong Kar Wai, sebutlah In the Mood for Love, Ashes of Time atau Chungking Express, sedikit-banyak, kita akan mendapati adanya usaha-usaha ke arah tersebut. Harus kita namai apa harmoni yang disusun dari gambar-gambar yang bergerak perlahan, repetisi musik-musik nostalgis, serta perkataan-perkataan yang mengharu-biru—namun subtil, jika bukan sebuah usaha untuk menjadi sebuah sentimentalia yang utuh, dan bukan sekadar menyampaikannya?

ImageIN THE MOOD FOR LOVE

2000 | 98 menit | Drama | Berwarna | Bahasa: Kanton | Teks: Inggris | Sabtu, 21 Juli 2012, 19:00 WIB

Berkisah tentang dua orang yang hidup bertetangga. Keduanya sudah berkeluarga, namun kerap dilanda kesepian yang tak tertanggungkan karena kurangnya perhatian dari masing-masing pasangan. Lambat laun, karena intensitas pertemuan, semacam perasaan-senasib, serta hobi yang serupa, mereka lalu menjalin persahabatan. Pelan-pelan pula, setelah mengetahui ketidaksetiaan pasangannya masing-masing, mereka berusaha menumbuhkan perasaan dari balik dinding tipis yang memisahkan flat keduanya. Memang bukan cerita yang luar biasa, namun, lewat tangan Wong Kar Wai, film ini menjadi salah satu yang paling sukar dilupakan.

ImageMY BLUEBERRY NIGHTS

2007 | 95 menit | Drama | Berwarna | Bahasa: Inggris | Teks: Inggris | Minggu, 22 Juli 2012, 19:00

My Blueberry Nights adalah rangkaian peristiwa yang, barangkali, biasa ditemukan di mana saja pada hari-hari ini. Syaratnya: kafe kecil, pai-pai blueberry yang tidak laku, pemilik kafe yang melankolis, dan seorang perempuan yang patah hati. Susunannya: di kafe itu, pai-pai blueberry akan menambal jarak, lalu membuat si pemilik kafe dan si perempuan saling jatuh cinta. Seperti itu sajakah? Tidak, perempuan itu sedang patah hati, dan itu adalah detil yang penting. Setelah beberapa kali datang ke kafe dan menjadi satu-satunya pelanggan yang memesan pai blueberry, si perempuan akan menitipkan kunci apartemen mantan-kekasihnya, lalu pergi berkelana ke seantero Amerika. Elizabeth, nama perempuan tersebut, mempelajari beberapa hal sepanjang perjalanannya: tentang cinta, relasi sesama manusia, dan yang terpenting, tentang perasaannya sendiri.

ImageCHUNGKING EXPRESS

1994 | 98 menit | Drama | Berwarna | Bahasa: Kanton | Teks: Inggris | Senin, 23 Juli 2012, 19:00

Cerita film ini terbagi dalam dua bagian, dengan dua tokoh utama yang berbeda, namun menghadapi masalah yang serupa—keduanya patah arang karena asmara. Salah satu bagian yang paling mengesankan adalah ketika mereka merawat luka dengan cara masing-masing: tokoh pertama melahap tiga puluh kaleng nanas dalam semalam sambil merenung tentang tanggal kadaluarsa, sementara tokoh kedua melakukan percakapan sentimentil dengan benda-apa-saja di apartemennya. Jika ada orang di sekitar anda yang menyebut Chungking Express sebagai film Wong Kar Wai kesukaannya, tunggu saja kalimat berikutnya, saya berani bertaruh, orang tersebut pasti akan mulai bercerita tentang dua tokoh ajaib itu.

From the Garden of Culinary Romance

10 10 2011
Program Pemutaran KenyangBego dan Cinema Poetica @ Perpustakaan Literati, Oktober 2011
.

This is October and there are several things to celebrate and mourn, from two October Revolutions up to The Infamous October Coup more than 40 years ago (and don’t forget today’s #OccupyWallStreet). But after last month’s #WhiteTerror screening our amateur librarians and programmers have decided to take a short break from doing such a hardcore subject and thus, along with our friends, those chefs and cinephiles at KenyangBego and Cinema Poetica, planned to go with a  “reunion screening”, you name it, on stories of having good dishes over disastrous relationship. Since the former are extraordinary chefs, they would come over with the best hot stuff to fill in your stomach. All is invited.

Ini adalah Oktober, dan ada beberapa hal untuk dirayakan maupun diratapi: dari dua Revolusi Oktober hingga kudeta Oktober tak dikenal 40 tahun lalu (jangan lupakan pula #OccupyWallStreet belakangan ini). Tapi pasca-program pemutaran #WhiteTerror bulan lalu, programer dan pustakawan amatir kami memutuskan untuk sejenak rehat dari topik-topik berat. Bersama kawan-kawan chef di KenyangBego dan sinefil di Cinema Poetica, kami merencanakan, sebut saja, “pemutaran (film) reuni” tentang  kisah-kisah santap-hidangan menyenangkan dalam suasana hubungan yang laiknya petaka. Berhubung KenyangBego berisi chef-chef sungguhan, mereka akan hadir dengan kudapan lezat pengisi perut Anda. Siapapun boleh datang!

.

Eat Drink Man WomanEAT DRINK MAN WOMAN
Ang Lee | 1994 | Drama | 124min | Kamis, 13 Oktober 2011, 19.00 WIB, di Perpustakaan Literati.
Senior Master Chef Chu lives in a large house in Taipei with his three unmarried daughters, Jia-Jen, a chemistry teacher converted to Christianity, Jia-Chien, an airline executive, and Jia-Ning, a student who also works in a fast food restaurant. Life in the house revolves around the ritual of an elaborate dinner each Sunday, and the love lives of all the family members.

Chu, seorang Master Chef senior, tinggal di sebuah rumah megah di Taipei bersama tiga anak perempuannya yang masih lajang: guru kimia yang masuk Kristen, Jia-Jen, pegawai eksekutif maskapai penerbangan, Jia-Chen, dan seorang siswi yang sekaligus pegawai restoran cepat saji, Jia-Ning. Mereka tinggal di rumah yang akrab dengan ritual makan yang rumit tiap Minggu dan kehidupan cinta para anggota keluarga.

.

The Thief His Wife & Her Lover THE COOK THE THIEF HIS WIFE & HER LOVER
Peter Greenaway | 1989 | Drama | 124min | Jumat, 14 Oktober 2011, 19.00 WIB, di Perpustakaan Literati.
The wife of a barbaric crime boss engages in a secretive romance with a gentle bookseller between meals at her husband’s restaurant. Food, colour coding, sex, murder, torture and cannibalism are the exotic fare in this beautifully filmed but brutally uncompromising modern fable which has been interpreted as an allegory for Thatcherism.

Istri seorang bos kriminal barbar terlibat affair dengan seorang penjual buku yang ramah saat mereka makan di restoran sang suami. Makanan, warna film, seks, pembunuhan, penyiksaan, dan kanibalisme adalah menu eksotis dalam film yang indah ini. Namun juga merupakan fabel modern nan brutal tanpa kompromi, yang ditafsirkan sebagai alegori atas Thatcherisme.

.

Big NightBIG NIGHT
Campbell Scott & Stanley Tucci | 1996 | Drama | 107min | Sabtu, 15 Oktober 2011, 19.00 WIB, di Perpustakaan Literati.
Primo and Secondo are two brothers who have emigrated from Italy to open an Italian restaurant in America. Primo is the irascible and gifted chef, brilliant in his culinary genius, but determined not to squander his talent on making the routine dishes that customers expect. Secondo is the smooth front-man, trying to keep the restaurant financially afloat. The owner of the nearby Pascal’s restaurant, enormously successful (despite its mediocre fare), offers a solution – he will call his friend, a big-time jazz musician, to play a special benefit at their restaurant. Primo begins to prepare his masterpiece, a feast of a lifetime, for the brothers’ big night…

Adalah Primo dan Secondo, dua bersaudara yang pindah dari Italia ke Amerika untuk membuka sebuah restoran Italia. Primo seorang yang pemberang dan koki berbakat sejak lahir, namun bersikukuh tidak menyia-nyiakan talentanya untuk sekadar rutinitas masak-memasak guna memuaskan pelanggannya. Sedangkan Secondo adalah seorang pemimpin yang lembut, berusaha menjaga usahanya tetap stabil secara finansial. Pemilik warung sebelah, Restoran Pascal, yang sangat sukses (meski pasang harga murah) pun datang menawarkan solusi – dia akan mengundang temannya yang seorang musisi jazz ternama untuk tampil di restoran mereka. Primo mulai menyiapkan mahakaryanya, satu pesta sekali seumur hidup untuk merayakan malam bersama…

White Terror!

27 09 2011

Program Pemutaran Film Perpustakaan Literati

___________________________________________________________________________

white terror [hwahyt ter-er] · noun violence carried out by reactionary (usually monarchist or conservative) groups as part of a counter-revolution. In particular, during the 20th century, in several countries the term White Terror was applied to acts of violence against real or suspected socialists and communists.

_______________________ · kb. kekerasan yang dilakukan oleh kelompok reaksioner (biasanya monarkis atau konservatif), sebagai bagian dari aksi-aksi kontra-revolusi. Di beberapa tempat, terutama sepanjang abad ke-20, istilah ini digunakan untuk menyebut aksi kekerasan melawan mereka yang memang dan/ atau dituduh sebagai sosialis dan komunis.

___________________________________________________________________________

Before 2001, September 11 had always been remembered as the day when General Pinochet launched a bloody coup against democratically-elected President Allende in 1973, which tragically ended the few years of socialist experiment in Chile. Inspired by the success story of Indonesian Army in eradicating radical leftists during the mid-1960s (also in September), Pinochet and his henchmen used the code “Operation Jakarta”. To commemorate the two twin September events (and their sister tragedies) from September 29 to October 1, 2011, Perpustakaan Literati brings together three films on counterrevolutionary terror each in Indonesia (1965), Chile (1973), and Congo (1960).

Sebelum tahun 2001, tanggal 11 September senantiasa dikenang sebagai hari kudeta Jenderal Pinochet terhadap Presiden Salvador Allende di Chile pada 1973, yang sekaligus mengakhiri eksperimen sosialisme demokratis di negeri itu. Uniknya, nama dan strategi “Operasi Jakarta”, demikian pasukan Pinochet menyebut aksi militer tersebut, diambil dari operasi serupa yang membasmi kelompok-kelompok Kiri di Indonesia di tahun 1960-an. Mengenang peristiwa Gestok dan tragedi September lainnya, mulai tanggal 29 September sampai 1 Oktober, Perpustakaan Literati memutar tiga film tentang teror kontrarevolusioner di tiga negara: Indonesia (1965), Chile (1973), dan Kongo (1960).

.

1) Pengkhianatan G-30-S/ PKI (Arifin C. Noer, 1984 | Dokudrama | 220min | Bahasa Indonesia | Kamis, 29 September 2011, 19.00 WIB)

The most notorious propaganda film produced by General Suharto’s New Order about October 1st Coup and its backlash. Known for its gory yet fabricated depiction of Communists killing and torturing the so-called Seven Generals, the film was annually shown on national television channels and it was mandatory for every student to watch it. Director Arifin C. Noer is said to have produced the film under military force while his own cinematic version of the event, Jakarta ’66, has long been banned.

Film propaganda paling kontroversial yang pernah diproduksi oleh Orde Baru Soeharto tentang Kudeta 1 Oktober dan reaksi sesudahnya. Terkenal karena penggambarannya berdarah-darah tapi palsu tentang pembunuhan dan penyiksaan terhadap “7 Jenderal” yang dilakukan Partai Komunis, film ini diputar setiap tahun di stasiun televisi nasional dan sudah menjadi kewajiban bagi para siswa ketika itu untuk menontonnya. Konon sutradara Arifin C.Noer dipaksa militer untuk memproduksi film ini, sementara versi sinematik garapannya tentang peristiwa tersebut, Jakarta ’66, hingga kini masih dilarang.

.

2) Salvador Allende (Patricio Guzman, 2004 | Dokumenter | 100min | Bahasa Spanyol, Prancis, & Inggris, teks Bahasa Inggris | Jumat, 30 September 2011, 19.00 WIB)

28 years before 9/11, there was another 9/11 which represented a key date in the history of Chile and the whole world. This was the date in 1973 when a bloody coup in Chile deposed Salvador Allende the first Marxist president elected democratically anywhere in the world and put an end to the Chilean experiment of a democratic transition from capitalism to socialism.

28 tahun sebelum peristiwa 9/11, ada “11 September” lain yang menjadi peristiwa kunci dalam sejarah Chile dan belahan dunia lainnya. Di hari itu, tahun 1973, Salvador Allende—presiden Marxis pertama yang terpilih secara demokratis—digulingkan lewat kudeta berdarah yang sekaligus mengakhiri eksperimen transisi demokrasi Chile, dari kapitalisme menuju sosialisme.

.

3) Lumumba (Raoul Peck, 2000 | Dokudrama | 115min | Bahasa Prancis & Lingala, teks Bahasa Inggris | Sabtu, 1 Oktober 2011, 19.00 WIB)

The true story of the rise to power and brutal assassination of the leader of the independent Congo, Patrice Lumumba, who emerges here as the heroic sacrificial lamb dubiously portrayed by the international media and led to slaughter by commercial and political interests in Belgium, the United States, the international community, and Lumumba’s own administration. A true story of political intrigue and murder where political entities, captains of commerce, and the military dovetail in their quest for economic and political hegemony.

Sebuah kisah nyata tentang Patrice Lumumba, pemimpin gerakan kemerdekaan Kongo, mulai dari era kekuasaannya yang singkat sebagai perdana menteri hingga kematiannya yang tragis. Lumumba diberitakan secara buruk dalam media internasional dan dihabisi oleh mereka yang berkepentingan secara ekonomi maupun politik di Belgia, Amerika Serikat, komunitas internasional, dan pemerintahan Kongo sendiri. Kisah nyata tentang intrik politik dan pembunuhan, di mana klik-klik politik, saudagar, dan militer bersatu mempertahankan hegemoni ekonomi dan politik.

Tentang September, dan Beberapa Bulan ke Depan…

18 08 2011

Terkait dengan masa mudik lebaran, berakhirnya masa promosi keanggotaan, dan menyambut bulan-bulan depan dengan program yang seabrek, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para anggota, maupun yang berniat jadi anggota, Perpustakaan Literati.

  1. Selama masa mudik lebaran kami akan tutup untuk sementara, yakni mulai tanggal 22 Agustus hingga 9 September 2011. Pelayanan kepustakaan akan dimulai lagi pada tanggal 12 September 2011. Bila ada anggota yang masih dalam masa pinjam pada saat kami tutup, harap segera melakukan perpanjangan lewat sms di 085643029300 (Damar). Bila kesempatan perpanjangan sudah habis, harap segera menghubungi nomor yang sama untuk pengembalian buku.
  2. Karena masa promosi keanggotaan kami akan berakhir akhir Agustus ini, dan jumlah koleksi kami yang makin menggunung, yang mana butuh sumberdaya ekstra untuk pengelolaannya, maka biaya keanggotaan akan naik dari Rp 5.000,- menjadi Rp 20.000,- dan berlaku mulai September 2011. Keanggotaan berlaku seumur hidup. Sistem peminjaman berlaku tetap, yakni maksimal 2 buku untuk 2 minggu dan dapat diperpanjang 1 kali. Denda keterlambatan tetap, Rp 1.000,- per buku per hari.
  3. Untuk beberapa bulan ke depan kami merencanakan beberapa kegiatan yang akan melibatkan partisipasi aktif Kawan-kawan semua, baik yang sudah maupun belum tercatat sebagai anggota Perpustakaan Literati. Ihwal kegiatan ini akan diumumkan secara lebih detail dalam waktu mendatang. Kami tunggu partisipasi aktif Kawan-kawan semua!

Demikian beberapa hal yang perlu kami sampaikan. Semoga Kawan-kawan semua mahfum dan maklum. Segenap penggiat Perpustakaan Literati mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Selamat liburan dan selamat lebaran! 🙂

PULANG KAMPUNG!: Program Pemutaran Cinema Poetica @ Perpustakaan Literati, Agustus 2011

03 08 2011

Baru saja masuk Agustus, tapi kerinduan pada kampung halaman telah menyesaki kota-kota para perantau. Ada tabungan rindu setahun yang harus segera lunas, ada dosa setahun yang harus segera ditebuskan maaf. Pulang kampung bukan hanya persuaan dengan handai taulan, melainkan juga retrospeksi atas titik nol perjalanan manusia. Tiga film dokumenter bulan ini mengikuti orang-orang yang akan pulang kampung, seperti Anda.

.

Apa Khabar Orang Kampung

Amir Muhammad | Malaysia | 2006 | Jumat, 5 Agustus 2011 pukul 19.00

Pembuat film menelusuri desa nun di pedalaman Malaysia. Ia menanyai para gaek, tentang memori yang terselip di bawah pembungkaman, serta pendudukan Inggris di Malaya, hampir seabad yang lalu. “Malaysia adalah raksasa yang tengah berjuang  ulang ke tanah muasalnya,” ujar film ini dalam hati.

.

This is Nollywood

Franko Sacchi | Nigeria | 2007 | Jumat, 12 Agustus 2011 pukul 19.00

2000 film dibuat di Nigeria setiap tahunnya, film itu diputar di lebih dari 55 juta titik pemutaran, disaksikan oleh 90 persen penduduk Nigeria. Film dibuat, diproses, dan ditonton di kampung. Dengan kultur perfilman paling produktif di dunia, masih  antaskah kita menyebut Nigeria sebagai “negeri kampungan?”

.

Last Train Home

Lixin Fan | Kanada, China | 2009 | Jumat, 19 Agustus 2011 pukul 19.00

Setiap menjelang tahun baru China, miliaran orang China mudik ke kampung halaman. Dokumenter ini mengikuti sepasang  suami istri yang pulang kampung. Mereka depresi bukan main ketika mendapati, anak mereka tidak lagi seperti dalam foto yang mereka simpan.  Mereka berubah, mereka melawan!

.

Sampaikan dan ramaikan! Gratis!

JENDELA DUNIA: Program Pemutaran Film Juli 2011

06 07 2011

Perpustakaan Literati bekerja sama dengan CinemaPoetica.com menggelar acara pemutaran film dengan tajuk “Jendela Dunia”.

Biutiful
Alejandro Gonzalez Inarritu | 2010 | fiksi | 148 menit | bahasa Spanyol, teks Inggris | Jumat, 15 Juli 2011 pukul 19.00 WIB

Sebuah kisah tentang Uxbal, bapak dua anak, yang menyadari bahwa ajalnya kian dekat. Di hari-hari terakhirnya itu, dia berusaha membuat hidupnya bermakna, baik bagi keluarganya maupun orang-orang di sekitarnya.

.

In A Better World
Sussane Bier | 2010 | fiksi | 119 menit | bahasa Denmark, teks Inggris | Jumat, 22 Juli 2011 pukul 19.00 WIB

Ada dua keluarga Denmark yang hidupnya saling berseberangan. Ketika kematian terlibat dalam relasi keduanya, mereka pun terbelah antara kata maaf dan balas dendam. Pemenang Oscar untuk film asing terbaik tahun 2011.
.

Norwegian Wood
Tran Anh Hung | 2010 | fiksi | 133 menit | bahasa Jepang, teks Inggris | Jumat, 29 Juli 2011 pukul 19.00 WIB

Adaptasi novel kondang Haruki Murakami. Ceritanya seputar cinta segitiga Toru, Naoko, dan Midori: tiga anak muda Jepang, yang sulit berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu.

.

Sampaikan dan ramaikan! Gratis!

JUNI INI DI LITERATI (Program Perpustakaan Literati Juni 2011)

31 05 2011

A. Ceramah Kebangsaan “Soekarnoisme Dalam Abad Ke-21”

Bertepatan dengan momen Kebangkitan Nasional, Perpustakaan Literati bekerjasama dengan Parikesit Institute, LPPM Sintesa, Pusat Studi Pancasila UGM, dan Penerbit Djaman Baroe, menggelar kuliah umum bertemakan “Soekarnoisme Dalam Abad Ke-21”, dengan pembicara Dr. Max Lane (University of Melbourne). Kata pengantar akan disampaikan oleh Prof. dr. Sutaryo (Ketua Senat UGM).

Waktu dan tempat: Jumat, 10 Juni 2011, pukul 13.00 – selesai, di Ruang Seminar Pasca Sarjana, Kampus Bulaksumur Fisipol UGM.

HTM: Mahasiswa – Rp 20.000, Umum – Rp 35.000. Untuk pembelian tiket, silahkan datangi Sekretariat LPPM Sintesa (Gedung Yong Ma lt.2, Kampus Bulaksumur Fisipol UGM) atau Perpustakaan Literati (Perum. Bima Kencana no.2, Condongcatur, Yogyakarta).

Contact person: Ulum (085 743 400 995) dan Ike (085 649 216 841).

.
B. 
Bring The War Home!: Kiri di Masa Teror

Produksi wacana terorisme setelah 9/11 tidak hanya berdampak pada Islam yang kemudian sering dikaitkan dengan radikalisme dan teror, tetapi juga sampai gerakan kiri di era 1960-70an. Sekitar 10 tahun terakhir muncul sejumlah film tentang sepak terjang kelompok-kelompok kiri bersenjata di Amerika dan Eropa Barat, seperti: Red Army Faction, Red Brigade, Weather Underground, dan lain sebagainya. Di satu sisi, ada implikasi bahwa membaca fenomena terorisme kontemporer melalui terorisme gerakan kiri, berarti juga mengembalikan diskursus terorisme ke dalam kaitannya dengan soal-soal ketimpangan ekonomi dan kolonialisme yang getol diartikulasikan oleh kelompok kiri.

Di sisi lain, muncul pula kesan bahwa setiap gerakan politik yang berada di luar prosedur rutin negara maupun di luar spektrum ideologi liberal, dapat semena-mena dikategorikan sebagai radikal atau teroris. Pemutaran film dan diskusi “Bring the War Home!: Kiri di Masa Teror” bertujuan untuk membedah narasi teror seperti yang ditampilkan dalam 3 film:  Baader Meinhof Complex dan The Weather Undeground, mengetengahkan dua kelompok sayap kiri di Jerman dan Amerika yang mengadopsi taktik gerilya, sementara L’Avocat de la terreur adalah dokumenter tentang pengacara Prancis Jacques Verges yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki klien-klien eks-Nazi, diktator negara dunia ketiga, teroris, dan pembantai massal seperti Milosevic.

1. Baader Meinhof Complex

Uli Edel | 2008 | Fiksi | 150 menit | Bahasa Jerman, teks Inggris | Jumat, 10 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Sebuah potret tentang Red Army Faction, sebuah grup teroris Jerman, yang mengorganisir sejumlah pengeboman, penculikan, dan pembunuhan di dekade 60an

.

2. L’avocat de la terreur

Barbet Schroeder | 2007 | Dokumenter | 135 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Jumat, 17 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Dokumenter tentang pengacara Prancis Jacques Verges, yang selama bertahun-tahun dikenal memiliki klien-klien eks-Nazi, diktator negara dunia ketiga, teroris, dan pembantai massal.

.

3. The Weather Underground + Diskusi

Sam Green & Bill Siegel | 2002 | Dokumenter | 92 menit | Bahasa Inggris, tanpa teks | Jumat, 24 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati | Pembicara: Luqman Al-Hakim (Master Hubungan Internasioal UGM).

Sebuah dokumenter tentang The Weather Underground, kelompok aktivis radikal dekade 70an di Amerika Serikat. Mereka mengkonfrontasi pemerintahan via  demonstrasi di jalan dan pengeboman.

.

C. Diskusi Sastra Bersama Daftar Pustaka

Perpustakaan Literati bersama Daftar Pustaka menggelar diskusi rutin dua kali sebulan, tentang pengarang dan penyair dunia, serta karya-karya mereka. Juni 2011 adalah bulan edisi pengarang dan penyair Eropa.

1. Pengarang: Milan Kundera

Bagaimanakah jika sejumlah kisah cinta yang kompleks dibalut dengan pandangan dunia yang fatalis?  Hubungan Tomas dan Tereza yang dilandasi kesetiaan Tereza yang nyaris tanpa batas, serta sosok Tereza yang bak “bayi hanyut dan terdampar di sisi tempat tidur”, selalu menghantui Tomas. Pertemanan erotis antara Tomas dan Sabina; Sabina sebagai personifikasi dari obsesi Frans yang tak lazim, serta hasrat Sabina untuk menghianati segalanya. Dalam Unbearable Lightness of Being, sebagian besar cerita berkisar di antara hubungan-hubungan tersebut, dan sesekali disisipi kuliah filsafat, baik oleh narator, maupun oleh tokoh-tokohnya.

Rabu, 15 Juni 2011, pukul 16.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

2. Penyair: Charles Bauderlaire

“Stupidity and meanness, error, vice,/ Inhabit and obsess us every one./ As for remorse, we find it rather fun:/ We nourish it, as beggars feed their lice…You/ know this dear monster, reader. Yes you do,/ Admit it. We are brothers, you and I.” (To the Reader)

Bayangkan sebuah dunia yang tidak lebih dari area porak-poranda, dipenuhi monster dan binatang buas, serta dikelilingi gunung berapi dan jurang-jurang dalam. Itulah dunia dalam sajak-sajak Baudelaire, sekaligus dunia yang ia hayati sehari-hari. Singkatnya, bagi tokoh yang dinyatakan Arthur Rimbaud sebagai ‘Raja Para Penyair’ ini, harga kehidupan justru terletak pada penderitaan, bukan pada ilusi-ilusi yang kerap kita anggap sebagai kebahagiaan.

Kamis, 30 Juni 2011, pukul 16.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

.

D. Pemutaran Film bersama Cinema Poetica: “Memori dan Remedi”

“Aku telah menghabiskan hidupku memahami arti dari mengingat, yang ternyata bukan lawan dari melupakan. Kita tidak pernah mengingat. Kita hanya menulis ulang ingatan kita, sama layaknya kita menulis ulang sejarah,” begitu tulis Chris Marker dalam Sans Soleil (1983), film dokumenternya yang paling personal. Marker boleh jadi sedang merenungi—atau malah meratapi?—ketidakmampuannya mengingat asal muasal setiap gambar dan suara yang ia rekam.

Marker melihat memori sebagai suatu pertentangan, antara yang hilang dan yang bertahan. Ia berasumsi manusia mereduksi kehidupannya menjadi serangkaian fragmen ingatan. Sejumlah momen dan imaji bertahan, meski sudah lama dialami, namun kerangka besar yang menyatukan itu semua sudah lama hilang. Konsekuensinya: tidak semua ingatan bisa kita terjemahkan. Apa yang hilang dan yang bertahan dari kenangan kita pada akhirnya kita susun kembali, sesuai dengan keinginan hati. Pada titik itulah, apa yang kita biasa anggap sebagai mengingat dan melupakan terjadi. Ketika akhirnya renungannya tentang memori terwujud via Sans Soleil, Marker melihat medium film punya kesamaan dengan memori. Setiap gambar dan suara, yang terkandung dalam suatu film, dapat berdiri dengan dirinya sendiri.

Marker tidak sendiri dalam merenungkan memori via sinema. Ada juga Apichatpong Weerasethakul, yang mencoba mereka ulang masa kecilnya lewat Syndromes and a Century (2006). Begitu juga dengan Alain Resnais, yang bicara soal trauma perang dan kehilangan kekasih, lewat dua mahakaryanya: Nights and Fog (1955) dan Hiroshima Mon Amour (1959).

1. Sans Soleil

Chris Marker | 1983 | Dokumenter | 100 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Senin, 6 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Seorang perempuan membacakan surat dari temannya, yang baru saja jalan-jalan dari Jepang sampai Afrika. Surat tersebut dilengkapi dengan potongan-potongan gambar, yang menceritakan sejumlah renungan tentang memori dan waktu.

.2. Syndromes and a Century

Apichatpong Weerasethakul | 2006 | Fiksi |105 menit | Bahasa Thai, teks Inggris | Senin, 20 Juni 2011, pukul 19.00 – selesai, di Perpustakaan Literati.

Film ini merupakan narasi personal sang sutradara tentang orang tuanya yang kerja sebagai dokter, dan kenangan masa kecilnya yang banyak dihabiskan di lingkungan rumah sakit.

.

3.

 A. Night and Fog

Alain Resnais | 1955 | Dokumenter | 32 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Senin, 27 Juni 2011, di Perpustakaan Literati.

Sebuah dokumentasi singkat tentang sejarah kamp konsentrasi Nazi. Film ini mengaitkan arsitektur kamp-kamp konsentrasi yang tersisa sekarang dengan penderitaan dan kematian yang terjadi di dalamnya beberapa tahun sebelumnya.

.

B. Hiroshima Mon Amour

Alain Resnais | 1959 | Fiksi | 90 menit | Bahasa Perancis, teks Inggris | Senin, 27 Juni 2011, di Perpustakaan Literati.

Di Hiroshima tahun 1959, seorang aktris muda Perancis menghabiskan semalam bersama seorang pria Jepang. Peraduan mereka malam itu mengingatkan si perempuan Perancis akan kekasihnya dulu: seorang tentara Jerman yang tewas tertembak di Perang Dunia II.

.

Dua film terakhir akan diputar pukul 19.00 – selesai.